Sujud Sahwi: Hukum, Waktu dan Bacaannya

  • Whatsapp
sujud sahwi
dok: Afiq Fatah/ Unsplash

Dalam sholat kadang kita sering lupa dalam hal jumlah rakaat. Oleh sebab itu, ada ‘fasilitas’ yang bernama sujud sahwi. Seperti namanya sahwi yang merupakan serapan bahasa Arab yang artinya lupa atau lalai.

Ada perbedaan diantara para ulama tentang hukum sujud sahwi. Umumnya para ulama memang berpendapat hukumnya sunnah, namun ada juga yang berpendapat wajib dalam kasus-kasus tertentu.

Read More

Sunnah

Mayoritas ulama diantaranya mazhab Maliki, Syafi’i dan satu riwayat dari mazhab Hanbali mengatakan bahwa hukum sujud ini adalah
sunnah dan bukan wajib.

Dasar pendapat mereka mengatakan hukumnya sunnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri: “Apabila kalian ragu dalam (jumlah bilangan rakaat) shalat, maka tinggalkan keraguan dan pastikan di atas keyakinan. Bila sudah selesai shalat, sujudlah dua kali. Kalau ternyata rakaat shalatnya sudah lengkap, maka rakaat dan dua sujud (sahwi)-nya itu menjadi nafilah (ibadah tambahan), sedangkan kalau shalatnya kurang dan menjadi lengkap dengan tambahan satu rakaat, maka sujud sahwi sebagai pengecoh bagi setan. “

Titik tekan dalil ini ada pada bagian akhir dari hadits, yaitu ketika Rasulullah SAW menyebutkan: maka rakaat dan dua sujud (sahwi)-nya itu menjadi nafilah (ibadah tambahan). Secara ekspisit perkataan beliau SAW menyebutkan bahwa hukumnya adalah nafilah, yang bermakna tambahan atau sunnah.

Wajib

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa sujud ini itu hukumnya wajib antara lain dikatakan oleh mazhab Hanafi dan sebagian pendapat mazhab Hanbali yang muktamad.

Dalam hal ini ada sedikit catatan dalam mazhab Hanbali, bahwa sujud ini yang wajib itu adalah apabila seseorang melakukan sesuatu yang sekiranya akan membatalkan shalatnya secara sengaja, seperti mengurangi atau menambah sujud secara sengaja. Atau meninggalkan sesuatu yang wajib dari shalat karena lupa, seperti tidak membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud. Atau adanya keraguan dalam shalatnya atau mengucapkan kalimat diluar bacaan shalat baik karena lupa atau sengaja.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri: bersabda, “Bila kalian merasa ragu ‘Rasulullah ketika shalat dan tidak tahu berapa rakaat yang sudah dikerjakan, apakah tiga rakaat atau empat rakaat, maka campakkanlah rasa ragu itu dan tegaklah di atas keyakinan. Lalu sujudlah dua kali sebelum salam. Bila dia shalat lima kali maka Kami genapkan baginya shalatnya dan bila dia shalat penyempurnaan dari empat rakaat, maka sujud sahwi itu menjadi pencambuk setan”.

Sebab-sebab Sujud Sahwi

Ada beberapa sebab mengapa kita harus melakukan sujud sahwi. Setidaknya ada dua penyebab, seperti yang dijelaskan dalam buku Sujud Sahwi karya Maharati Marfuah, Lc., yaitu:

  1. Adanya penambahan atau pengurangan

Ulama sepakat apabila orang yang shalat secara sengaja menambahkan atau mengurangi gerakan dalam shalatnya baik berupa berdiri, ruku’, duduk, atau sujud, maka shalatnya batal. Sujud ini disyariatkan bagi siapa saja yang tanpa sengaja atau lupa menambahkan atau mengurangi gerakan dalam shalat.

  1. Adanya keraguan

Apabila orang yang shalat ragu, apakah sudah shalat 3 rakaat atau 4 rakaat, atau ragu sudah melaksanakan sujud dua kali atau belum, maka mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali mengatakan bahwa seharusnya orang yang shalat meyakini hal yang terkecil kemudian sujud sahwi di akhir shalat. Misalnya orang yang shalat ragu apakah sudah rakaat kedua atau ketiga, maka hendaknya dia meyakini bahwa dia dalam rakaat kedua kemudian sujud yang satu ini diakhir shalat.

Sedangkan menurut Madzhab Hanafi jika seseorang ragu dalam shalatnya, apakah sudah tiga rakaat atau empat, maka dia berpegang pada rakaat yang paling dia yakini kebenarannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud: Nabi SAW bersabda ” Jika kalian ragu tentang jumlah rakaat shalat kalian, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya. Kemudian lakukan sujud sahwi.

Namun apabila masih bingung berapa rakaat, maka diambil rakaat yang paling sedikit, sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Ibnu Qudamah, salah seorang ulama dari madzhab Hanbali mengatakan: “Imam Al- Khiroqi membedakan antara imam dan munfarid (orang yang shalat sendiri), imam berpegang pada prasangkanya dan munfarid berpegang pada keyakinannya“.

Inilah pendapat yang masyhur dari kalangan madzhab Hanbali, sebab imam ada yang mengingatkan ketika salah yaitu dengan cara makmumnya mengucapkan tasbih, sedangkan munfarid tidak ada yang mengingatkan ketika salah dalam shalatnya.

Disebutkan oleh Madzhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah, sujud yang satu ini dilakukan jika:

a. Apabila yang ketinggalam rukun shalat, kalau memungkinkan untuk menggantinya maka diganti dan sujud ini di akhir shalat, apabila tidak mungkin maka shalatnya batal.

b. Apabila yang ketinggalan adalah sunah shalat, maka tidak perlu melakukan sujud sahwi.

c. Apabila yang ditinggalkan adalah yang wajib, apabila menginggalkan karena lupa, maka dia sujud sahwi, apabila sengaja meninggalkan maka tidak perlu sujud sahwi.

Misalnya sesorang shalat, kemudian dia cuma sujud sekali saja dan baru ingat ketika sudah mau salam, maka dia sujud sekali yang tadi dia tinggalkan kemudian sujud sahwi.

Adapun dalam Madzhab Maliki, apabila seorang shalat meninggalkan rukun shalat, dan dia ingat sebelum rakaatnya berakhir, maka dia mengganti rukun yang dia tinggalkan kemudian sujud sahwi.

Waktu Sujud Sahwi

Ulama berbeda pendapat tentang waktu sujud sahwi, apakah sebelum salam atau sesudahnya.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa sujud ini dilakukan setelah salam, baik ketika ada kelebihan rakaat shalat atau kurang. Dengan cara setelah tasyahud akhir kemudian salam sekali, kemudian sujud sahwi lalu tasyahud dan salam. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Tsauban: “Setiap lupa (dalam shalat) itu dilakukan dua sujud setelah salam.”

Sedangkan Madzhab Maliki dan sebagian Madzhab Syafi’i embedakan antara kelebihan atau kurangnya gerakan shalat.

Apabila ada kekurangan dalam gerakan shalat maka sujud dilakukan sebelum salam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Buhainah:

Langsung berdiri setelah dua rakaat, “Rasulullah SAW pada shalat dhuhur tanpa duduk (tasyahud awal) diantara keduanya. Ketika Nabi menyelesaikan shalatnya (sebelum salam), beliau melakukan dua kali sujud kemudian salam”.

Apabila ada kelebihan dalam gerakan shalat, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:

Rasullullah SAW mengimami kami 5 rakaat. Kami pun bertanya, “Apakah memang shalat ini ditambahi rakaatnya?”Beliau SAW balik bertanya, “Memang ada apa?”. Para shahabat menjawab, “Engkau telah shalat 5 rakaat!”. Beliau SAW pun menjawab, “Sesungguhnya Aku ini manusia seperti kalian juga, kadang ingat kadang lupa sebagaimana kalian.” Lalu beliau SAW sujud dua kali karena lupa”.

Sedangkan menurut Madzhab Hanbali dan sebagian Madzhab Syafi’i, sujud ini dilakukan sebelum salam kecuali ketika dalam dua keadaan yang disebutkan dalam hadits.

Pertama, jika ada kekurangan satu rakaat atau lebih. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: Shalat bersama kami Nabi saw, shalat zhuhur atau ashar lalu ia salam. Lalu berkatalah kepadanya Dzul Yadain “Shalat ya Rasulallah apakah dikurang? (diqoshor), lalu Nabi saw bertanya kepada shahabat yang lainnya, Apakah benar dia katakan! Mereka menjawab, ya. Maka ia pun shalat yang dua raka’at lagi kemudian ia sujud dua kali.”

Kedua, ketika imam ragu dalam shalatnya, maka dia sujud setelah salam, sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud diatas. Adapun pendapat ketiga dari sebagian mazhab Syafi’i adalah memilih antara setelah salam atau sebelumnya.

Bacaan Sujud Sahwi

Ada perbedaan diantara ulama atas apa yang dibaca pada saat seseorang melakukan sujud sahwi. Sebagian ulama memandang tidak ada lafaz khusus untuk dibaca, karena memang kita tidak menemukan landasan yang tegas dan valid tentang hal itu. Sehingga dalam pandangan mereka, lafaz bacaan sujud ini itu sama saja dengan lafaz sujud-sujud yang lainnya, yakni:

سبحان ربي الأعلى

subhana rabbiyal a’la

“Maha suci Allah Yang Maha Tinggi”

Sedangkan sebagian ulama lainnya menganjurkan untuk membaca lafadz khusus, walau pun tidak ditemukan dalil yang tegas atau valid, yaitu:

سبحان من لا ينام ولا يسهو

subhana man la yanamu waa yashu

“Maha suci Allah Tuhan yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa”

Tata Cara Sujud Sahwi

Apabila kesalahan dalam shalat terulang dalam satu shalat, maka cukup dua sujud sahwi saja tanpa mengulanginya.

Apabila seseorang lupa untuk mengerjakan sujud sahwi dan baru ingat setelah beranjak pergi, maka para ulama berbeda pendapat:

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa bila sujud sahwi terlupa dikerjakan di akhir shalat dan terlanjur mengucapkan salam dengan niat memutus shalat, baik dengan bergeser dari arah kiblat, atau berbicara atau keluar dari masjid, maka pensyariatan sujud sahwi gugur sudah, tidak perlu lagi dikerjakan.

Tetapi bila belum mengerjakan salah satu dari yang memutus shalat itu, meski sudah mengucapkan salam, boleh dilakukan sujud sahwi.

Sedangkan mazhab Maliki membedakan antara sujud sebelum salam dan sesudah salam. Kalau yang terlupa adalah sujud sebelum salam, maka pensyariatan sujud sahwi itu gugur, sehingga tidak perlu dikerjakan lagi.

Sedangkan bila yang terlupa itu adalah sujud sahwi yang setelah salam, masih bisa dikerjakan ketika dia, meski ada terpaut jeda beberapa tahun lamanya.

Dalam hal ini yang menjadi tujuan dari sujud sahwi menurut mazhab Maliki adalah melakukan targhim kepada setan, jadi kapan saja bisa dilakukan, meski sudah lama.

Mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa bila seseorang sudah mengucapkan salam dan sudah terpaut lama dari shalatnya, maka sujud sahwi yang terlupa itu tidak perlu dikerjakan lagi.

Mazhab Hanbali mengatakan masih dibenarkan sujud sahwi setelah selesai shalat, baik sujud itu seharusnya dilakukan sebelum salam atau sesudahnya, meski sudah sempat berbicara, asalkan jarak jeda waktunya tidak terlalu lama.

Mengingatkan Imam Ketika Lupa

Apabila imam shalat lupa dalam rakaatnya, maka mayoritas ulama membolehkan makmum untuk yang ﷺ mengingatkan.

Mayoritas ulama dari Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali membedakan antara makmum perempuan dan makmum laki-laki dalam mengingatkan kesalahan imam dalam shalat, laki-laki dengan mengucapkan tasbih, sedangkan perempuan dengan menepukkan punggung tangannya ke telapak tangannya.

Sedangkan Madzhab Maliki tidak membedakan antara makmum laki-laki dan makmum perempuan, keduamya sama-sama bertasbih.

Apabila imam lupa atau ragu dalam shalatnya, dan dia sujud sahwi, maka makmum ikut sujud, walaupun makmum tidak lupa dalam shalatnya, sebagaimana hadits Nabi. “Sungguh tidaklah imam ditunjuk kecuali agar diikuti. Oleh karena itu, apabila dia telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Apabila dia telah ruku’, maka ruku’lah kalian. Apabila telah sujud maka sujudlah. Apabila imam shalat dengan berdiri, maka shalatlah kalian dengan berdiri.”

Makmum Masbuk Ketika Imam Lupa

Mayoritas ulama berpendapat bahwa makmum masbuk wajib untuk mengikuti sujud ini bersama imam. Sementara mazhab Maliki berpendapat bahwa apabila makmum masbuk mendapati shalat imam kurang dari satu rakaat maka tidak perlu ikut sujud sahwi.

Jika makmum mengingatkan sebelum imam berdiri tegak, maka imam kembali duduk untuk tasyahud awal dan tidak perlu sujud yang satu ini. Namun apabila imam sudah berdiri tegak, maka jangan kembali duduk dan sujud sahwi diakhir shalat sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al-Mughiroh bin Syu’bah : Apabila imam bangkit setelah rakaat kedua dan dia teringat sebelum sempurna berdiri maka hendaknya dia duduk kembali, dan jika sudah berdiri sempurna maka jangan duduk dan lakukanlah sujud sahwi (sebelum salam).”

Namun apabila imam atau munfarid sudah berdiri tegak setelah rakaat kedua kemudian kembali duduk, menurut madzhab Hanafi, sebagian madzhab Syafi’i dan sebagian madzhab Maliki shalatnya batal.

Sebagian madzhab Maliki dan Hanbali menilai shalatnya tidak batal, namun shalatnya dianggap jelek. Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalatnya tidak batal.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *