Imam Malik Adalah: Nasab, Sifat Hingga Wafat

  • Whatsapp
imam malik
dok: muwatta

Nama lengkap Imam Malik adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amru bin al-Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amru bin al-Harits (Dzu Asbah) bin Auf bin Malik bin Zaid bin Syadad bin Zur’ah.

Keluarganya berasal dari kampung Dzu Asbah, sebuah suku di sekitar kota Himyar, di negeri Yaman. Abu Amir -kakek Imam Malik- pindah ke kota Madinah di masa Nabi saw dengan maksud berhijrah dari tempat lamanya dan menyambut seruan dakwah Islam. Abu Amir bertemu dengan Nabi saw, sehingga para sejarawan memasukkannya ke dalam golongan sahabat Nabi saw yang mulia.

Dan perlu diterangkan bahwa nama Anas bin Malik (ayahanda Imam Malik) bukanlah Anas bin Malik yang seorang sahabat mulia dan pembantu Nabi saw itu. Karena nama lengkap Anas bin Malik -seorang sahabat Nabi saw yang mulia- adalah Anas bin Malik bin an-Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghunam bin Adiy bin an-Najjar al-Anshari al-Khazraji.1 Sahabat mulia Anas bin Malik wafat pada tahun yang sama dengan kelahiran Imam Malik bin Anas.

Anas bin Malik -ayahanda Imam Malik- sendiri merupakan generasi Tabi’in, yaitu generasi yang bertemu dengan para sahabat Nabi saw. Sedangkan Imam Malik ialah termasuk generasi Tabiut Tabi’in. Ibunda Imam Malik bernama Aliyah binti Syuraik al-Azdiyah.

Imam Malik bin Anas dilahirkan di kota Madinah. Menurut riwayat yang kuat beliau dilahirkan pada tahun 93 H (712 M). Memiliki kunyah Abu Abdillah, diambil dari nama putra laki-lakinya; Abdullah.

Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Malik selama hidupnya juga mengalami dua kekhilafahan Islam yaitu Daulah Umayyah dan Abbasiyah. Beliau lahir pada masa Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik – seorang Khalifah Bani Umayyah yang ke-7.2 Sebagian yang lain menyebutkan beliau lahir di masa pemerintahan al-Walid bin Abdil Malik -Khalifah yang ke-6.

Seperti diambil dari buku “Biografi Imam Malik” karya Wildan Jauhari Lc., Imam Malik dikaruniai usia yang panjang, mendekati sembilan puluh tahun. Kurang lebiih hidup di bawah era bani Umayyah selama 40 tahun. Dan 47 tahun di masa awal Bani Abbasiyah. Imam Malik mengalami lima sirkulasi kekhilafahan Bani Umayyah: al-Walid bin Abdil Malik, Sulaiman bin Abdil Malik, Umar bin Abdil Aziz, Yazid bin Abdil Malik dan Hisyam bin Abdil Malik. Sedangkan dari Bani Abbasiyah, Imam Malik mengalami masa kepemimpinan Abu al-Abbas, Abu Ja’far al-Manshur, al-Mahdi, al-Hadi dan Harun ar-Rasyid.

Sifat

Abu Ashim berkata, “Tak pernah kujumpai seorang ahli hadis yang lebih baik parasnya dari Imam Malik.”

Isa bin Umar al-Madini murid Imam Malik berkata, “Tak seorangpun yang lebih putih dan kemerahan wajahnya dari Imam Malik. Juga tak ada yang lebih putih dan bersih pakaiannya dari beliau.”

Beliau adalah ulama yang berparas menarik, tinggi postur tubuhnya, kulitnya putih, wajahnya merona, tampan, gagah, senang berpakaian putih, dan berjenggot tebal.

Asyhab mengisahkan, “Imam Malik sering memakai wewangian terbaik.”

Beberapa muridnya seperti Ibnu Nafi’, Mutharrif dan Ismail mengatakan bahwa Imam Malik mengenakan cincin di jari kanannya, bertuliskan Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ketika ditanyakan pada Imam Malik kenapa menuliskan demikian, jawab Beliau “itu diambil dari firman Allah swt (waqoolu hasbunallahu wa ni’mal wakil)” mutharrif berkata. “Kemudian aku juga mengukirkan kalimat yang sama di cincinku.”

Ibnu Abi Hazim bertanya kepada Imam Malik mengenai minuman yang disukainya, beliau menjawab, “Di musim panas aku suka yang manis-manis, dan di musim penghujan aku lebih suka minum madu.”

Imam Malik sangat menyukai buah pisang. Imam Malik selalu mengkonsumsinya, menurut beliau pisang adalah buah yang terjaga dari gangguan lalat, mirip buah-buahan surga, mudah didapat baik di musim panas maupun dingin.

Guru

Pendidikan keislaman Imam Malik telah berlangsung sejak beliau masih kecil. Kakek Imam Malik seorang sahabat Nabi saw, yang disebut-sebut dekat dengan Sahabat mulia Utsman bin Affan ra. Ayahnya juga seorang ahli hadis terkemuka di zaman tabi’in.

Malik kecil memiliki tiga orang paman yang kesemuanya merupakan ahli hadis jempolan di masa itu, yaitu Nafi’ yang lebih dikenal sebagai Abu Suhail, Uwais dan ar-Rabi’. Bahkan Abu Suhail dan Uwais ini nantinya menjadi guru dari seorang ahli hadis terkenal; Imam az-Zuhri.

Keluarga Imam Malik memanglah terkenal sebagai keluarga pencinta ilmu. Tidak hanya kakek, ayah dan paman-pamannya, kecintaan terhadap ilmu ini juga menurun ke anak keturunan mereka. Imam Malik mengisahkan bahwa ia memilik saudara kandung yang menjadi partnernya dalam menuntut ilmu.

“Aku memiliki saudara kandung (namanya an-Nadhar bin Anas). Pada satu kesempatan, ayahku melontarkan sebuah pertanyaan. Jawaban
saudaraku benar, sedang jawabanku salah. Kemudian ayah menegurku dengan berkata, “Engkau wahai Malik, terlalu sibuk dengan merpati-merpatimu sehingga perhatianmu kepada ilmu terkurangi.” Semenjak saat itu, aku lebih giat lagi dan fokus dalam belajar.

Hal ini menandakan bahwa madrasah ilmu yang pertama kali membangun kualitas pendidikan Imam Malik adalah lingkungan keluarga beliau sendiri.

Meskipun memiliki modal keilmuan yang cukup hasil dari pendidikan keluarga, Imam Malik tetap mencari sosok guru yang akan lebih mematangkan keilmuan beliau. Tersebutlah bahwa Imam Malik berguru kepada ratusan ulama yang dari mereka Imam Malik menimba ilmu. Diantara guru Imam Malik yang terkenal ialah Abdurrahman bin Hurmuz, Nafi’ maula Abdullah bin Umar, Yahya bin Said, Abu az-Zinad, Muhammad bin al-Munkadir dan Ibnu Syihab az-Zuhri dalam bidang ilmu hadis dan riwayatnya. Sedangkan guru Imam Malik dalam ilmu fikih adalah Rabiah bin Abdir Rahman yang memiliki julukan Rabiah ar-Ra’yu, karena kuatnya akal, penalaran dan pemahaman beliau dalam hal fikih.

Imam an-Nawawi (w 676 H) menyebutkan Imam Abu al-Qasim Abdu al-Malik bin Zaid bin Yasin ad-Daulaqi berkata dalam kitabnya ar-Risalah al-Mushannafah fi Bayani Subulis Sunnah al-Musyarrafah: “Imam Malik mengambil ilmu dari 900 orang guru, 300 diantaranya dari generasi tabi’in, dan 600 dari generasi tabiut tabi’in. Guru yang dipilihnya adalah yang dia ridhai agamanya, ilmu fikihnya, konsistensinya terhadap syarat-syarat dalam meriwayatkan hadits, mereka bisa dipercaya dalam meriwayatkannya, dan Malik tidak berguru kepada orang yang tidak mengerti ilmu riwayat meskipun ia termasuk ahli agama dan kebaikan.”

Khusus kepada gurunya Abdurrahman bin Hurmuz, Imam Malik berguru selama tujuh tahun. Dalam riwayat yang lain disebut bahwa waktu yang dihabiskan Imam Malik untuk mulazamah dengan Syaikhnya tersebut ialah selama delapan tahun, tiga belas tahun, dan ada bahkan ada yang menyebut selama enam belas tahun.

Tak hanya memiliki kecakapan dalam ilmu, Imam Malik adalah juga seorang pembelajar yang berbudi luhur. Sang Ibu menasihatinya bahwa sebelum menimba ilmu dari para guru yang mulia, hendaklah dahulu menimba akhlak daripadanya. Imam Malik mengisahkan keadaan dirinya tatkala suatu hari berpamitan kepada Sang Ibu untuk pergi menuntut ilmu Mutharrif berkata, Imam Malik berkata, “Aku berpamitan pada Ibuku untuk pergi mencari dan mencatat ilmu. Ibu berkata, “kemarilah Nak, kenakanlah pakaian yang pantas bagi seorang penuntut ilmu.” Kemudian Ibu mengenakanku pakaian yang baik, juga memakaikan peci di kepalaku, dan memasangkan turban, lalu beliau berkata, “Nah, sekarang pergilah kepada gurumu Rabi’ah untuk menuntut ilmu. Tapi ingat Nak, belajarlah dahulu akhlak darinya sebelum kau menyerap ilmunya.”

Sebuah nasihat yang tak keluar kecuali dari lembutnya hati seorang ibu yang mendambakan kesuksesan pendidikan anaknya. Sebuah nasihat yang begitu membekas di hati Imam Malik kecil. Sedikitnya ada tiga hal penting yang bisa kita teladani dari percakapan antara ibu dan calon Imam Besar dunia Islam ini:

Pertama, bagaimana seorang Ibu yang solihah memberi gambaran kepada putranya tercinta akan keagungan dan kemuliaan sebuah majlis ilmu. Seorang penuntut ilmu hendaknya memakai pakaiannya yang terbaik saat menghadiri majlis ilmu. Penampilan seseorang dalam satu acara berbanding lurus dengan seberapa penting acara tersebut bagi dirinya. Semakin penting suatu acara bagi seseorang, semakin besar juga usahanya untuk tampil sebaik mungkin. Ibunda Imam Malik sedang mengarahkan puteranya bahwa majlis ilmu adalah tempat penting dan terhormat sehingga sudah selayaknya kita berpenampilan sebaik mungkin ketika mendatanginya.

Kedua, orang tua hendaknya mengarahkan dan menyiapkan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Hal ini terlihat saat Sang Ibu memilihkan guru terbaik bagi Imam Malik kecil. Adalah Syaikh Rabiah yang masyhur kedalaman ilmunya dalam bidang fikih, dipilihnya agar mengasuh Imam Malik dan mendidiknya. Sang Ibu tahu belaka bahwa kualitas guru sangat memengaruhi kualitas anak didiknya, sehingga menyiapkan guru terbaik untuk sang buah hati adalah sama halnya menyiapkan kesuksesan untuk masa depannya.

Ketiga, buah dari menuntut ilmu. Sebuah ilmu tak akan bermakna apa-apa tanpa dihiasi akhlak yang mulia. Sebagaimana budi yang luhur tak akan muncul dari sesesorang yang tidak berpengetahuan unggul. Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang saling menghiasi dan melengkapi. Jika seseorang hanya memiliki satu bagian saja darinya, maka ia seperti seorang pincang yang berjalan dengan sebelah kakinya.

Imam Kota Madinah

Kota Madinah pada mulanya bernama Yatsrib sebuah kota kecil yang biasa menjadi persinggahan para saudagar Mekkah yang hendak memperjualbelikan barang dagangannya ke Syam. Penduduk kota ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani, lain halnya dengan kota Mekkah yang terkenal dengan para penduduknya yang gemar berdagang.

Seiring terpilihnya kota ini menjadi tujuan hijrahnya Nabi saw, maka kota ini mengalami perubahan yang signifikan. Kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah, dan bahkan memiliki beberapa nama lain seperti Dar al-Hijrah (kota hijrah), dar as-Sunnah ( Kampung Sunnah), al-Madinah al-Munawwarah (Kota yang Bercahaya), Madinat ar-Rasul (Kota Rasul), Madinah an-Nabi (Kota Nabi), Thayyibah (Kota yang Menenteramkan), Qaryah al-Anshar (Desa Para Penolong), al-‘Ashimah (Ibu Kota), Bait Rasulillah (Kediaman Sang Utusan Tuhan), Dar as-Salam ( Negeri Kedamaian), Dar al-Haram (Kota Suci).

Rentang waktu yang tidak terlalu jauh antara kehidupan Imam Malik dengan masa Rasulullah saw dan para sahabat, menjadikan kota Madinah memiliki keunggulan yang tak ada di kota lainnya. Diantara keutamaan kota Madinah ialah sebagai tempat turunnya wahyu dari Allah swt melalui Jibril as. Di tanah Madinah pulalah disemayamkan jasad suci Baginda Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya yang mulia. Masih kuatnya ingatan tentang hadis-hadis Nabi saw dan fatwa-fatwa para ulama dari golongan sahabat yang terus diriwayatkan dan didarasakan pada generasi selanjutnya.

Dibanding kota dan daerah yang lain, Kota Madinah memiliki keunggulan dalam hal kuantitas sahabat yang pada akhirnya berdampak pada terjaganya ilmu-ilmu dan tradisi keislaman. Ibnu Hibban memerinci bilangan sahabat dan penyebarannya secara detail. Menurut beliau, sahabat Rasulullah yang terkenal dan terus berada di Madinah sampai akhir hayatnya berjumlah 152 orang. Di Mekkah ada 61 orang sahabat. Di Bashrah ada 51 orang. Dan di kota Kufah terdapat 54 orang sahabat. Sementara jumlah gabungan sahabat Nabi saw di Syam, Mesir, Yaman dan Khurasan hanya mencapai bilangan 98 orang sahabat.

Fakta mengenai banyaknya jumlah sahabat yang tinggal menetap di Madinah sepeninggal Rasulullah saw menambah keberkahan dan keutamaan kota Madinah dibanding daerah lainnya. Apalagi ditambah tentang masyhurnya kealiman tujuh fuqoha Madinah, yaitu Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, Kharijah bin Zaid, Abu Bakr bin Ubaid bin Abdirrahman bin Harits bin Hisyam, Sulaiman bin Yasar, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud dan Said bin al-Musayyab.

Kesemuanya ini -kembali lagi- mempertegas akan posisi Kota Madinah sebagai kota ilmu. Sehingga Imam Malik menjadikan amalan ahli Madinah sebagai salah satu dalil di dalam ushul madzhab beliau. Menurut beliau, Madinah adalah pusat ilmu dimana hidup di dalamnya para sahabat yang mulia, maka kecil kemungkinannya jika mereka sepakat melakukan sebuah kesalahan. Atau dalam bahasa yang lain, bahwa setiap perilaku yang disepakati oleh penduduk Madinah kala itu bisa dijadikan dalil, sebab hampir bisa dipastikan amalan tersebut bersumber dari Rasulullah saw atau dari sahabat.

Imam Malik begitu mencintai kota suci Madinah. Sejarah mencatat ia tak pernah meninggalkan kota tempat hijrah Nabi saw tersebut kecuali untuk keperluan haji dan umrah. Tanah yang tak hanya menjadi tempat kelahirannya namun juga menjadi saksi tumbuh dan kembangnya hingga akhirnya di satu masa nanti Imam Malik menjadi ulama besar yang menerangi dunia Islam dari timur hingga ke barat dengan cahaya ilmu. Baginya menghirup udara Madinah adalah sama halnya dengan menghirup nafas-nafas kenabian.

Imam Malik adalah seorang pencinta sejati kota Madinah. Tak ada seorangpun yang mencintai kota Madinah seperti cinta dan kesetiaannya padanya. Pengagungan Imam Malik kepada kota Madinah adalah seperti pengagungan beliau kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya.

Imam as-Syafi’i menuturkan bahwa suatu ketika dia melihat di depan pintu rumah Imam Malik seekor kuda perkasa dan seekor bagal Mesir yang terkenal kuatnya. Imam as-Syafi’i berkata, “Betapa bagusnya kuda dan keledai ini!” Imam Malik menjawab, “keduanya untukmu, ambillah!” “Tidakkah Engkau menyisakan salah satu diantara keduanya untuk tunggganganmu?” jawab Imam as-Syafi’i. Imam Malik mengatakan, “Aku benar-benar meras a malu pada Allah swt untuk menunggang binatang, sedangkan kakinya menginjak bumi tempat Rasulullah saw dimakamkan!”

Hingga ketika Imam Malik menjadi ulama besar Madinah, ia memilih satu tempat khusus di Masjid Nabawi, dimana dahulu Khalifah Umar bin al-Khattab sering menempatinya, karena di tempat yang sama pula terdapat karpet yang biasa diduduki Nabi saw ketika i’tikaf, hal ini dilakukan agar Imam Malik dapat menghadirkan kembali keagungan yang dimiliki para sahabat Nabi saw, khususnya dalam majlis ilmu dan musyawarah.

Juga disebutkan bahwa Imam Malik memilih bekas rumah sahabat Abdullah bin Mas’ud sebagai kediaman beliau. Kecintaan beliau terhadap hadis dan atsar sahabat membawanya menjelma sosok ulama ahli hadis sekaligus ahli fikih. Hingga dikatakan bahwa tak pantas seorang pun berfatwa di kota Madinah, sedangkan Imam Malik berada di dalamnya.

Wafat

Yang Mulia Imam Malik setelah lebih dari 60 tahun menjabat sebagai mufti di Madinah, maka pada hari Ahad tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 179 H (798 M), wafatlah beliau dengan tenang dalam usia 87 tahun.

Beliau wafat meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri yang nama-namanya ialah Yahya, Muhammad, Hammadah dan Ummu Abiha.

Harta yang ditinggalkan oleh Imam Malik ialah uang emas sebanyak lebih dari 3300 dinar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *