Imam Bukhari Adalah: Dari Nasab Hingga Wafat

  • Whatsapp
imam bukhari
dok: Sindo

Imam Bukhari adalah penulis kitab hadits Shahih Bukhari. Kitabnya dianggap kitab hadits yang paling shahih dibandingkan kitab-kitab hadits lainnya.

Namun demikian, tidak sedikit yang belum mengetahui biografi dari penulis hadits shahih Bukhari, Imam Bukhari. Bahkan sekadar nama dari penulisnya saja banyak yang belum tahu.

Read More

Bukankah namanya adalah al-Bukhari? Itu bukan nama aslinya. Berikut perjalanan Imam Bukhari dari nasab hingga dari wafat seperti dikutip dari buku Biografi Imam Bukhari yang ditulis oleh Hanif Luthfi, Lc.,MA.

Nasab

Kebanyakan orang memang hanya mengenal nama Bukhari saja. Nama beliau cukup singkat; Muhammad. Mungkin seperti asing hari ini di Indonesia, karena di Indonesia nama itu biasanya 2 suku kata atau bahkan 3 sampai 4 suku kata.

Imam Bukhari adalah pemilik kunyah Abu Abdillah, atau bapak dari Abdullah. Jadi nama beliau secara lengkap adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Barduzbah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Barduzbah ini bahasa Bukhara yang artinya petani.

Beliau lahir pada hari Jum’at 13 Syawal 194 H atau bertepatan pada tanggal 21 Juli 810 M di kota Bukhara. Bukhoro atau Buxoro adalah suatu kota di Negara Uzbekistan hari ini. Maka beliau terkenal dengan nama al-Bukhari, karena lahir di Bukhara atau Buxoro.

Kakek buyutnya yang bernama Barduzbah dulu beragama Majusi. Lalu putranya yang bernama Al-Mughirah memeluk Islam di bawah bimbingan Yaman Al-Ju’fi; seorang Gubernur Bukhara kala itu. Sehingga dia dipanggil Mughirah Al-Ju’fi.

Kehidupan

Ketika Al-Bukhari masih kecil ayahnya meninggal, sehingga ibunya merawat dan mendidiknya seorang diri. Biaya pendidikannya itu didapat dari harta peninggalan ayahnya.

Ismail; ayah dari Bukhari ini tampaknya memang dari awal suka dan cenderung kepada Hadis Nabawi. Ketika pergi haji pada tahun 179 H, atau 15 tahun sebelum Bukhari lahir, beliau menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh ahli hadis seperti Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H), Abu Mu’awiyah bin Shalih, dan lain-lain.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata: Bukhari berkata: (Bapakku) mendengar (hadits) dari Malik bin Anas (w. 179 H), melihat Hammad
bin Zaid (w. 179 H) dan bermushafahah dengan Ibnu al-Mubarak (w. 181 H) dengan kedua tangannya.

Semangat ini kemudian diwariskan kepada putranya, Muhammad.

Yatim dan Buta Waktu Kecil

Tidak berselang lama Ismail wafat ketika Muhammad masih kanak-kanak. Sebuah perpustakaan pribadi ditinggalkannya untuk Muhammad di samping semangat untuk mengaji hadis.

Dalam keadaan yatim, Muhammad lalu diasuh oleh ibundanya dengan kasih sayang. Dibimbingnya untuk menyintai buku-buku peninggalan ayahnya. Bersama-sama kawan sebayanya Muhammad belajar membaca, menulis, Al-Quran dan Hadis.

Muhammad bin Ismail ketika kecil mengalami rasa sakit yang teramat di kedua matanya, hingga akhirnya mengalami kebutaan.

Keadaan tersebut terus beliau alami hingga suatu ketika Allah ﷻ mengembalikan penglihatannya berkat usaha yang ditekuni oleh ibunya. Allah ﷻ benar-benar memberikan kesembuhan kepada Muhammad bin Ismail.

Suatu malam, ibunda Al-Bukhari tertidur, dan ia bermimpi melihat Nabi Ibrahim alaihissalam. Dalam mimpinya Nabi Ibrahim berkata, “Wahai perempuan, sungguh Allah ﷻ telah mengembalikan penglihatan putramu, karena banyaknya tangisanmu, atau banyaknya doa yang kamu panjatkan.”

Usia 10: Mulai Belajar Hadits

Bukhari mulai belajar hadis saat masih muda, bahkan masih kurang dari 10 tahun. Ketika Bukhari berusia 10 tahun inilah Imam as-Syafi’i di Mesir itu meninggal, tepatnya pada tahun 204 H. Maka praktis Bukhari tak pernah bertemu dengan Imam as-Syafi’i.

Muhammad bin Ismail berkata: Saya mendapatkan ilham untuk mudah menghafal hadits, saat itu saat masih di Kuttab (tempat belajar baca tulis), saat usia 10 tahun atau kurang.

Usia 11: Mengoreksi Ulama

Pernah suatu ketika saat beliau berusia 11 tahun, mengoreksi salah seorang ulama hadits bernama ad-Dakhili saat meriwayatkan hadits.

Ad-Dakhili meriwayatkan hadits dengan jalur sanad: dari Sufyan dari Abu az-Zubair dari Ibrahim. Lantas Muhammad bin Ismail berkata: “Itu bukan Abu az-Zubair”.

Ad-Dakhili terkejut dan cukup marah dengan koreksian dari anak usia 11 tahun. Ad-Dakhili meminta menunjukkan kesalahannya.

Muhammad bin Ismail berkata; “Coba lihatlah sumber aslinya, jika punya. Abu az-Zubair tak meriwayatkan dari Ibrahim. Bukan Abu az-Zubair yang meriwayatkan dari Ibrahim, tapi az-Zubair bin ‘Adi dari Ibrahim.”

Maka, ad-Dakhili memverifikasi ulang dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Ismail kecil itu. Maka beliau mengoreksi ulang haditsnya8.

Usia 16: Umrah ke Makkah

Pada usia 16 tahun, Imam Bukhari adalah penghafal banyak kitab ulama terkenal, seperti Ibn Al-Mubarak, Waki’, dan sebagainya.

Ia tidak berhenti pada menghafal hadits dan kitab ulama awal, tapi juga mempelajari biografi seluruh periwayat yang ambil bagian dalam periwayatan suatu hadis, tanggal kelahiran dan wafat mereka, tempat lahir mereka dan sebagainya.

Lalu pada usia 16 tahun, atau tahun 210 H beliau pergi ke Mekkah bersama Ibu dan kakaknya; Ahmad untuk menunaikan haji. Beliau tetap tinggal di sana untuk menuntut ilmu, sedangkan Ibu dan saudaranya kembali ke kampung halaman.

Di sinilah Muhammad bin Ismail mendalami hadis dari tokoh-tokoh ahli hadis seperti al-Walid al-Azraqi dan Ismail bin Salim al-Saigh, dll.

Usia 18: Mulai Menulis Kitab

Pada usia 18 tahun, beliau mulai menuliskan kitab Qadlaya al-Sahabah wa al-Tabi’in. Kemudian Muhammad bin Isamil ini pergi ke Madinah untuk mempelajari hadis dari para ulama disana.

Di Madinah, Imam Bukhari adalah penulis kitab at-Tarikh al-Kabir; kitab tentang biografi para perawi hadits di samping Kuburan Nabi Muhammad ﷺ. Hampir-hampir beliau menuliskan cerita tersendiri di setiap biografi ulama yang beliau tulis, tapi khawatir terlalu banyak maka tak jadi beliau tulis.

Beliau menulis biografi lebih dari 1.000an ulama dalam bukunya at-Tarikh tersebut. Beliau juga shalat 2 rakaat setiap menulis satu biografi ulama.

Beliau belajar di Makkah dan Madinah, atau terkenal dengan nama Hijaz selama 6 tahun, yaitu dari tahun 210 H – 216 H.

Usia 22: Mengunjungi Banyak Tempat

Fase berikutnya, Muhammad bin Ismail menjelajahi negeri-negeri lain, disamping sering mondar-mandir ke beberapa kota untuk menemui guru-guru hadis.

Maka tersebutlah nama beberapa kota tempat Muhammad bin Ismail berguru mencari hadis, antara lain; Makkah, Madinah, Syam, Baghdad, Wasit, Basrah, Bukhara, Kufah, Mesir, Harah, Naisapur, Qarasibah, ‘Asqalan, Himsh, dan Khurasan.

Beliau merantau ke negeri Syam, Mesir Jazirah sampai 2 kali, ke Basrah 5 kali, ke Hijaz bermuqim 6 tahun dan pergi ke Baghdad bersama-sama para ahli hadis yang lain sampai 8 kali.

Dalam salah satu perjalannya kepada Adam bin Abu Ayas, ia kehabisan uang. Tanpa uang sepeserpun, dia hidup sementara dengan daun-daun tumbuhan liar.

Menurut pengakuannya, kitab hadis yang ditulisnya membutuhkan jumlah guru tidak kurang dari 1.080 orang guru hadis.

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh.

Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan belajar. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab.

Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak akan meriwatkan hadis yang ku terima dari sahabat dan tabi’in, sebelum aku mengetahui tanggal kelahiran, hari wafatnya dan tempat tinggalnya. Aku juga tidak akan meriyatkan hadis mauquf dari sahabat dan tabi’in, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ .

Al-Allamah Al-Aini Al-Hanafi berkata, “Imam Al-Bukhari adalah seorang yang hafizh, cerdas, cerdik dan cermat. Ia memiliki kemampuan menjelaskan dengan jeli, kemampuan mengingatnya sudah masyhur dan disaksikan para ulama yang tsiqah”.

Usia 56: Menetap di Naisabur

Setelah pengembaraannya mencari ilmu, meriwayatkan hadits, menulis kitab-kitab, akhirnya Beliau di usia 56 atau tepatnya tahun 250 H, mulai menetap di Naisabur. Beliau mengajarkan ilmu yang telah diperoleh kepada penduduk Naisabur saat itu. Beliau menetap di Naisabur selama 5 tahun, sebelum akhirnya mendapatkan ujian, yaitu dikeluarkan dari Naisabur karena suatu tuduhan tak berdasar.

Usia 61: Keluar dari Naisabur

Muhammad bin Ismail pernah dituduh berfaham Al-Qur’an itu makhluk. Bahkan beliau meninggal dalam rangka dikucilkan oleh masyarakat Naisabur dan Samarkand saat itu.

Mulanya, pada tahun 250 H, Imam Bukhari datang ke Naisabur. Beliau menetap di sana selama beberapa waktu dan terus beraktifitas mengajarkan hadits.

Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli -tokoh ulama di kota itu dan juga salah satu guru Imam Bukhari-mengatakan kepada murid-muridnya, “Pergilah kalian kepada lelaki salih dan berilmu ini, supaya kalian bisa mendengar ilmu darinya.” Setelah itu, orang-orang pun berduyun-duyun mendatangi majelis Imam Bukhari untuk mendengar hadits
darinya. Sampai, suatu ketika muncul ‘masalah’ di majelis Muhammad bin Yahya, dimana orang-orang yang semula mendengar hadits di majelisnya berpindah ke majelisnya Imam Bukhari.

Sebenarnya, sejak awal, Imam adz-Dzuhli tidak menghendaki terjadinya masalah antara dirinya dengan Imam Bukhari, semoga Allah merahmati mereka berdua. Beliau pernah berpesan kepada murid-muridnya, “Janganlah kalian tanyakan kepadanya mengenai masalah al-Kalam. Karena seandainya dia memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang kita anut pastilah akan terjadi masalah antara kami dengan beliau, yang hal itu tentu akan mengakibatkan setiap Nashibi (pencela ahli bait), Rafidhi (syi’ah), Jahmi, dan penganut Murji’ah di Khurasan ini menjadi mengolok-olok kita semua.”

Ahmad bin ‘Adi menuturkan kisah dari guru-gurunya, bahwa kehadiran Imam Bukhari di kota itu membuat sebagian guru yang ada di masa itu merasa hasad/dengki terhadap beliau.

Mereka menuduh Bukhari berpendapat bahwa Al-Qur’an yang dilafalkan adalah makhluk.

Suatu ketika muncullah orang yang menanyakan kepada beliau mengenai masalah melafalkan Al-Qur’an. Orang itu berkata, “Wahai Abu Abdillah, apa pandangan

mu mengenai melafalkan Al-Qur’an; apakah ia makhluk atau bukan makhluk?”.

Setelah mendengar pertanyaan itu, Bukhari berpaling dan tidak mau menjawab sampai tiga kali pertanyaan. Orang itu pun memaksa, dan pada akhirnya Bukhari menjawab, “Al-Qur’an adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Sementara perbuatan hamba adalah makhluk. Dan menguji seseorang dengan pertanyaan semacam ini adalah bid’ah.”

Hal yang menjadi sumber masalah adalah tatkala orang itu secara gegabah menyimpulkan, “Kalau begitu, Muhammad bin Ismail berpendapat bahwa Al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk.”

Padahal simpulan itu bukan perkataan dari Imam Bukhari. Kesimpulan itu diselewengkan dari apa yang disampaikan oleh Imam Bukhari.

Hal itu menimbulkan berbagai persepsi di antara hadirin. Ada yang mengatakan, “Kalau begitu Al-Qur’an yang saya lafalkan adalah makhluk.” Sebagian yang lain membantah, “Beliau tidak mengatakan demikian.” Akhirnya, timbullah kesimpang-siuran dan kesalahpahaman di antara para hadirin.

Tatkala kabar yang tidak jelas ini sampai ke telinga adz-Dzuhli, beliau pun berkata, “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggap bahwa Al-Qur’an yang saya lafalkan adalah makhluk -padahal Imam Bukhari tidak menyatakan demikian, maka dia adalah mubtadi’/ ahli bid’ah. Tidak boleh bermajelis kepadanya, tidak boleh berbicara dengannya. Barangsiapa setelah ini pergi kepada Muhammad bin Isma’il -yaitu Imam Bukhari- maka curigailah dia. Karena tidaklah ikut menghadiri majelisnya kecuali orang yang sepaham dengannya.”

Tak berselang lama, sekitar satu bulan sejak peristiwa itu, maka orang-orang pun bubar meninggalkan majelis Imam Bukhari kecuali Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah.

Saking kerasnya permasalahan ini sampai-sampai Imam adz-Dzuhli menyatakan, “Ketahuilah, barangsiapa yang ikut berpandangan tentang lafal – sebagaimana Bukhari, maka tidak halal hadir dalam majelis kami.”

Mendengar hal itu, Imam Muslim mengambil selendangnya dan meletakkannya di atas imamah/penutup kepala yang dikenakannya, lalu beliau berdiri di hadapan orang banyak meninggalkan beliau dan dikirimkannya semua catatan riwayat yang ditulisnya dari Imam adz-Dzuhli di atas punggung seekor onta.

Pada akhirnya, Imam Bukhari pun memutuskan untuk meninggalkan Naisabur demi menjaga keutuhan umat dan menjauhkan diri dari gejolak fitnah.

Beliau menyerahkan segala urusannya kepada Allah ﷻ. Allah lah Yang Maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Sebab beliau tidaklah menyimpan ambisi kedudukan maupun kepemimpinan sama sekali. Imam Bukhari berlepas diri dari tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang hasad kepadanya.

Suatu saat, Muhammad bin Nashr al-Marwazi menceritakan: Aku mendengar dia -Bukhari-mengatakan, “Barangsiapa yang mendakwakan aku berpandangan bahwa Al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk, sesungguhnya dia adalah pendusta. Sesungguhnya aku tidak berpendapat seperti itu.

Abu Amr Ahmad bin Nashr berusaha menelusuri permasalahan ini kepada Imam Bukhari. Dia berkata,“Wahai Abu Abdillah, di sana ada orang-orang yang membawa berita tentang dirimu bahwasanya kamu berpendapat Al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk.” Maka Imam Bukhari menjawab,“Wahai Abu Amr, hafalkanlah ucapanku ini; Siapa pun diantara penduduk Naisabur dan negeri-negeri yang lain yang mendakwakan bahwa aku berpendapat Al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk maka dia adalah pendusta. Sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan hal itu. Yang aku katakan adalah perbuatan hamba adalah makhluk.”

Ada sebuah pelajaran berharga dari Imam Muslim dalam menyikapi persengketaan yang terjadi diantara kedua imam ini.

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Muslim telah bersikap adil tatkala dia tidak menuturkan hadits di dalam kitabnya -Shahih Muslim-, tidak dari yang ini -Bukhari- maupun yang itu -adz-Dzuhli-.”

Setelah beliau keluar dari Naisabur, beliau menuju ke Samarkand. Beliau ke suatu tempat dekat Samarkand yang bernama Khartank, karena beliau memiliki kerabat di situ.

Usia 62: Wafat

Beliau pindah dari Kota Naisabur, menuju ke Samarkand, tepatnya di Desa Khartank sekitar 2 farsakh atau sekitar 12 km dari Samarkand. Disana ada saudara dari Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Beliau merasa, cobaan ini sungguh berat. Sampai akhirnya beliau jatuh sakit. Sehingga suatu malam, beliau berdoa kepada Allah ﷻ:

Ya Allah, sesungguhnya telah sempit bagiku dunia yang sebenarnya luas. Maka ambillah nyawaku.

Beliau wafat pada malam sabtu, bertepatan dengan malam Idul Fitri. Beliau dikebumikan setelah shalat dzuhur pada tahun 256 Hijriah di desa Khartank yang terletak dekat dengan Samarkand, hari ini lebih dikenal dengan Uzbekistan. Umur beliau 62 tahun kurang 13 hari.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *