Hukum Aqiqah Menurut Para Ulama

  • Whatsapp
aqiqah

Pembahasan di Ujaran kali ini mengenai hukum aqiqah. Aqiqah merupakan salah satu syiar islam yang sangat mulia dan agung. Idealnya, anak yang baru terlahir ke dunia ini mempunyai hak untuk diaqiqahi.

Namun demikian, yang terjadi di masyarakat adalah tidak semua orang tua melaksanakan aqiqah setelah sang buah hati lahir.

Sebenarnya, ada beragam faktor yang melatarbelakangi keadaan ini. Kadang faktor ekonomi orang tuanya pada saat itu sedang tidak lapang, maka agak keberatan ketika harus mengeluarkan biaya untuk aqiqah.

Hukum aqiqah menurut para ulama memiliki beragam pandangan. Setidaknya ada lima pendapat hukum aqiqah seperti diambil dari buku “Sudah Dewasa Kok Belum Diaqiqahi?” karya Ust Syafri Muhammad Lc.:

  1. Sunnah Muakkadah

Ini adalah pendapat jumhur ahlul ilmi dari kalangan sahabat, thabi’in, dan fuqaha’. Sebut diantaranya: Mazhab Syafi’i, Maliki dan pendapat yang masyhur dan mu’tamad di kalangan Mazhab Hanbali. Pendapat ini dinukil dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Umar, ‘Aisyah, Fatimah dan al-Qashim anak Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, Urwah bin Zubair, ‘Atha, al-Zuhri, Ishaq, Abu Tsaur, dan yang lainnya.

  1. Wajib

Ini adalah pendapat Mazhab Dzahiri, dan pendapat pemimpin Mazhab Dzahiri, yaitu Ibnu Hazm. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, dan juga dipilih oleh sekelompok Mazhab Hanbali.

  1. Tathawwu’

Siapa yang ingin mengerjakannya maka silahkan saja untuk mengerjakannya dan siapa yang mau meninggalkannya maka silahkan meninggalkannya, ini dikatakan oleh al-Thahawi dan Ibn ‘Abidin. Namun secara umum, pendapat ini mirip dengan pendapat jumhur ulama.

  1. Mubah

Pendapat ini dikatakan oleh al-Munbaji dan dinukil oleh Ibnu Abidin.

  1. Mansukhah

Mengadakan aqiqah adalah makruh, karena hukumnya sudah dihapus. Pendapat ini diriwayatkan dari Muhammad al-Hasan sahabatnya Abu Hanifah, bahwasanya ia berkata : aqiqah sudah ada sejak zaman jahiliyah, dan diawal masa keislaman juga masih dilaksanakan, namun lambat laun pelaksanaan aqiqah dihapuskan dan diganti dengan ritual qurban.

Alasan atau dalil dan hujah kelompok-kelompok di atas:

a. Dalil Pendapat Pertama

Mazhab pertama beralasan dengan hadits: telah menceritakan kepada kami Salman bin Amir Adl Dlabbi ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada anak lelaki ada kewajiban ‘aqiqah, maka potongkanlah hewan sebagai aqiqah dan buanglah keburukan darinya. (HR. al- Bukhari)

Hadits yang diriwayatkan dari Samuroh bin jundub radhiyallahu ‘anhu dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud)

Hadits yang diriwayatkan dari Ummu Kurz al-Ka’biyyah: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang sepadan umur dan besarnya, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. (HR. Abu Daud)

Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW mengaqiqahi untuk hasan dan husein, masing-masing satu kambing.

Jumhur ulama beralasan bahwa hadits-hadits tentang aqiqah di atas menunjukkan sunnah yang disukai dan selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW baik melalui perbuatannya maupun ucapannya sebagaimana praktek aqiqah yang beliau lakukan untuk cucunya Hasan dan Husein ra.

Adapun redaksi yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. menunjukkan sebuah perintah, namun hukumnya tidak mengarah kepada kewajiban yang harus dilakukan, namun jumhur ulama melihatnya pada sebuah anjuran, dan ini diperkuat bahwa Rasul sallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan hal tersebut sebagai keinginan dan pilihan bagi seorang muslim.

Jumhur ulama juga mengatakan kalaupun aqiqah itu wajib, maka kewajibannya pasti diketahui dari agama karena hal itu dibutuhkan. dan kalaupun itu perkara wajib, pastilah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya kepada umat dengan penjelasan yang universal untuk dijadikan hujjah.

Kemudian mereka juga berhujjah dengan ijma bahwa aqiqah itu sunnah. Mereka juga mengatakan bahwa aqiqah itu sembelihan karena terjadi kebahagiaan, maka tidak wajib seperti walimah.

Mereka mengatakan bahwa perbuatan Rasulullah SAW dalam aqiqah tidak menunjukkan wajib, hanya anjuran. Mereka juga mengatakan bahwa aqiqah itu adalah menumpahkan darah bukan karena pidana atau nadzar, maka tidak wajib seperti qurban

b. Dalil Pendapat Kedua

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Salman bin Amir Adz-Dzabi, “Pada anak lelaki ada kewajiban ‘aqiqah, maka potongkanlah hewan sebagai aqiqah dan buanglah keburukan darinya. (HR. al-Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda: untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang sepadan umur dan besarnya, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. (HR. Abu Daud)

Hadits yang diriwayatkan dari samuroh bin jundub radhiyallahu ‘anhu :
dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah SAW berkata: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Hazm mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan aqiqah, dan hal tersebut menjadi kewajiban, tidak boleh bagi seorangpun untuk memaknai perintah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kepada kebolehan untuk meninggalkannya kecuali kalau ada nash yang lain yang memalingkannya. Karena Nabi SAW pernah bersabda:“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah sebisa mungkin”

c. Dalil Pendapat Ketiga

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa aqiqah itu tathawwu’, dalil mereka sebagaimana yang dipakai oleh jumhur ulama.

d. Dalil Pendapat Keempat

Kelompok keempat yang berpendapat mubah beralasan dengan hadits: “Barang siapa yang ingin menyembelih untuk anaknya maka hendaknya ia menyembelih untuknya, untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak wanita satu kambing.” (HR. Abu Daud)

e. Dalil Pendapat Kelima

Adapun yang berpendapat dihapus adalah berdasarkan riwayat Aisyah bahwa qurban itu menghapus darah sebelumnya.

Salah satu ulama kontemporer yang bernama Husamuddin mengatakan bahwasanya setelah beliau mendiskusikan dan meneliti dalil-dalil tiap kelompok, beliau mengatakan bahwa pendapat yang unggul adalah pendapat jumhur, yaitu bahwa aqiqah itu sunnah muakkadah.

Demikianlah hukum aqiqah menurut para ulama. Patut diketahui bagi kita yang belum maupun akan melakukan aqiqah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *