4 Faktor Memilih Jodoh dalam Islam

  • Whatsapp
jodoh dalam islam
dok: medium

Memilih jodoh dalam Islam dan faktor yang harus diperhatikan dalam menyeleksi calon pasangan baik istri maupun suami sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Rasulullah SAW.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Wanita itu dinikahi karena empat hal karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari Muslim)

Inilah 4 faktor yang mestinya menjadi patokan dalam memilih jodoh seperti diambil dari buku “Menakar Kufu dalam Memilih Jodoh” karya Ust Ahmad Zarkasih Lc.:

1. Harta

Ini adalah perimbangan yang wajar dan manusiawi sekali. Memang dalam setiap diri manusia ada kecendrungan dasar untuk memilih pasangan yang memiliki perbendaharaan harta yang cukup. Baik dari sisi laki-laki yang sedang mencari calon istri, atau juga dari sisi wanita yang sedang mencari calon suami. Harta menjadi faktor
pertimbangan.

Karena memang disadari atau tidak, harta adalah hal yang juga penting dalam menunjang keberlangsungan keluarga, walaupun bukan faktor utama. Juga karena memang biasanya, faktor dengan ekonomi kuat, anak-anak akan terlayani dengan fasilitas yang memadai, baik dari segi pengajaran, pendidikan serta mental. Dan sebaliknya, ekonomi yang buruk dalam keluarga, bukan hanya membuat pasutri menjadi kurang harmonis tapi jug anak-anak tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal yang membuatnya tumbuh tidak sebaik orang yang mampu.

Biasanya, orang mampu lebih bisa menjalankan kewajiban-kewajiban agama, dibanding orang-orang yang tidak mampu. Lebih lagi, orang mampu lebih punya kemungkinan mendapatkan pahala lebih dari hartanya dibanding mereka yang tidak. Tentu jika si punya harta mengerti nilai harta dalam agama.

Syariat ini mengerti, karena itulah faktor harta itu tidak dihilangkan dan tidak dilarang. Syariat memberikan ruang yang luas bagi mereka yang ingin mencari jodoh dengan pertimbangan harta.

Karena tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup dalam keadaan miskin. Begitu juga, semua wanita ingin kehidupannya setelah pernikahan lebih baik dan beekecukupan.

Subyektifitas seperti ini dibolehkan dan dilegalkan oleh syariat. Tidak dihilangkan dan tidak juga dilarang. Silahkan jadikan harta sebagai bahan pertimbangan penerimaan dan pemilihan jodoh.

2. Keturunan

Pertimbangan ini juga pertimbangan yang sifatnya subyektif. Secara kebiasaan, sangat wajar memang seseorang atau orang tua gadis mencari pasangan dari keluarga yang baik.

Faktor keturunan adalah faktor kebangaan manusia. Semua orang ingin mendapatkan pasangan dari keluarga terhormat. Karena memang manusiawi sekali, orang ingin mnedapatkan kehormatan, orang ingin mendapatkan perhatian banyak mata, orang ingin mendapat kemuliaan. Dan salah satu faktor yang bisa meraih itu adalah faktor keluarga.

Siapa juga yang ingin mendapatkan mantu dari kalangan penjahat, penjilat, pembunuh, pencuri atau kriminil? Dan wanita mana yang rela hidup berdampingan dengan laki-laki culas, pemalas, pemabuk serta pengacau? Begitu juga sang suami, semua ingin mendapatkan keturunan yang baik, maka itu ia memilih wanita dari keturunan yang baik nasabnya.

Selain karena memang itu adalah sebuah kebangaan, faktor keturunan juga bisa mnejadi faktor yang menentukan baik dan tidaknya keturunan.

Dengan mendapatkan istri atau suami dari nasab yang baik itu, diharapkan nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab mendapatkan keturunan yang baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di dalam Al-Quran.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa : 9)

Sebaliknya, bila istri atau suami berasal dari keturunan yang kurang baik nasab keluarganya, seperti kalangan penjahat, pemabuk, atau keluarga yang pecah berantakan, maka semua itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada jiwa dan kepribadian istri atau suami.

Pertimbangan memilih istri dari keturunan yang baik ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab bukan hal yang mustahil bahwa sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik.

Namun masalahnya adalah pada seberapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan berpengaruh kepada calon istri. Selain itu juga pada status kurangbaik yang akan tetap disandang terus ditengah masyarakat yang pada kasus tertentu sulit dihilangkan begitu saja. Tidak jarang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat.

Maka bila masih ada pilihan lain yang lebih baik dari sisi keturunan, seseorang berhak untuk memilih istri yang secara garis keturunan lebih baik nasabnya.

3. Kecantikan atau ketampanan

Sangat manusiawi dan wajar sekali. Setiap orang ingin memiliki pasangan hidup yang indah dipandang, enak dilihat, menyenangkan jika berhadapan, memberikan ketenangan jika bersampingan.

Tidak ada wanita yang ingin memliki pasangan hidup buruk rupa, tak sedap dipandang dan tak nyaman jika berduaan. Sebagaimana juga laki-laki yang ingin dan sangat ingin memliki istri cantik memikat, wajahnya ayu, serta indah, dan senang jika berdampingan.

Karenanya, syariat memberikan ruang untuk itu. Tapi justru memberikan keleluasaan untuk kita memilih pasangan yang cantik wajahnya, tampan mukanya.

Imam Ibn Qudamah menyebut dalam kitabnya al-Kafi fi Fiqh al-Imam Ahmad: Dan memilih yang cantik rupanya; karena itu lebih menenangkan hati, enak dilihat, serta lebih langgeng untuk dicinta.

Karena itu juga, semua ulama sepakat adanya kebolehan melihat atau nadzar dari pelamar kepada wanita yang dilamarnya. Dan bagian tubuh yang disepakati boleh untuk dilihat oleh pelamar kepada wnaita yang dilamarnya adalanya muka dan tangan sampai pergelangan.

Dibolehkannya muka atau wajah sebagai bagian yang boleh dilihat; itu sebab karena memang wajah adalah symbol kecantikan. Dan kecantikan bisa menjadi faktor yang membuat laki-laki tertarik.

Dari al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: aku pernah melamar seorang wanita, lalu Nabi SAW berkata kepadaku: “apakah kau sudah melihat wanita itu?”, aku mengatakan: “belum”. Lalu Nabi SAW. berkata: “lihatlah! Karena sesungguhnya (dengan melihatnya) itu yang akan membuat kalian langgeng”. (HR Ibn Majah).

4. Pertimbangan Agama

Khusus masalah agama, Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah. Sebab dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya.

Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih. Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus menyekolahkan kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik.

Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT.

Secara rinci bisa dicontohkan antara lain, aqidahnya kuat, ibadahnya rajin termasuk sholat sunnahnya seperti sholat tahajud, akhlaknya mulia, pakaiannya dan dandanannya memenuhi standar busana Islam, menjaga kohormatan dirinya, fasih membaca Al-Quran, ilmu pengetahuan agamanya cukup, aktivitas hariannya mencerminkan pribadi muslim yang baik, berbakti kepada orang tuanya serta rukun dengan saudaranya.

Selain itu pandai menjaga lisannya dan pandai mengatur waktunya serta selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Apakah ia selalu menjaga diri dari dosa-dosa meskipun kecil, pemahaman syariatnya tidak terbata-bata dan berhusnuzan kepada orang lain, ramah dan simpatik.

Utamakan Agama

Dari 4 faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih jodoh dalam Islam, baik dari sisi wanita yang mencari calon suami atau juga dari sisi laki-laki yang mencari calon istri, Nabi Muhammad SAWmenekankan pentingnya faktor agama sebagai pertimbangan yang harus diperhatikan baik-baik.

Sebab, dari semua pertimbangan memilih jodoh dalam Islam tersebut, hanya faktor agama lah yang kekal dan bisa berjalan dalam waktu yang lama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *