3 Cara Mensucikan Najis

  • Whatsapp
mensucikan najis
dok: reddit

Ada cara mensucikan najis. Najis adalah sesuatu yang berseberangan dengan suci. Namun ada beberapa pihak yang mempertanyakan benarkah najis bisa disucikan?

Berbeda dengan mutanajis, yakni benda yang terkena najis. Untuk mensucikannya, cukup dengan menghilangkan najisnya dari benda itu. Maka ia kembali suci. Sementara itu najis, apa mungkin bisa disucikan? Sedangkan ia sendiri adalah najis.

Read More

Ternyata dalam syariah, menurut buku “Sepatu Kulit Babi” karya Ustaz Ahmad Zarkasih Lc., najis bisa menjadi suci. Entah itu memang najis itu yang berubah menjadi suci, atau mungkin saja dia disucikan oleh manusia.

Ada 3 cara mensucikan najis, menurut buku tersebut, di mana najis bisa berubah menjadi suci.

Khamr Menjadi Cuka

Khamr adalah minuman yang mengandung etanol dari hasil fermentasi buah dan memabukkan. Biasanya khamr tradisional itu terbuat dari buah anggur dan juga kurma. Bahkan sudah disebutkan dalam al-Qur’an bahwa 2 buah itulah yang mampu berubah menjadi khamr.

Allah SWT berfirman:

Dan dari buah kurma dan anggur kalian jadikan minuman yang memabukkan dan juga rezeki yang baik. (al-Nahl 67)

Jumhur ulama 4 mazhab, khamr adalah benda najis, yang bukan hanya haram dikonsumsi, tapi juga haram diperjualbelikan karena ia najis.

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamar berjudi berhala mengundi nasib dengan panah adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(QS. Al-Maidah: 90_

Khamr yang memabukkan karena di dalamnya ada unsur etanol tersebut, pada satu waktu bisa berubah menjadi cuka, yang mana etanol di dalamnya berubah menjadi asam asetat dan hilanglah unsur memabukkanya.

Proses itu bisa terjadi dengan sendiri atau bisa juga berproses dengan campur tangan manusia yang mengolahnya.

Ketika khamr itu sudah berubah menjadi cuka, statusnya yang najis berbuah menjadi suci. Karena memang kenajisan khamr ada pada unsur yang memabukkannya. Ketika unsur itu hilang, hilang juga kenajisannya. Berubah menjadi benda suci.

Hanya saja memang, dari kalangan 4 mazhab mempermasalahkan jika khamr itu berubah menjadi cuka karena sebab perubahannya sendiri, artinya tanpa ada ampur tangan manusia, semua sepakat ia menjadi suci.

Jika perubahannya itu disebabkan campur tangan manusia, maka khamr itu tetap menjadi najis. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan al-Syafi’iyyah dan al-Hanabilah.

Kulit Hewan Bangkai Yang Disamak

Salah satu cara yang disahkan oleh syariat untuk mengubah najis menjadi suci adalah dengan cara samak. Objeknya adalah kulit hewan bangkai yang ingin dimanfaakan. Syaratnya adalah harus suci. Dan untuk bisa jadi suci, kulit tersebut haruslah disamak.

Penyamakan kulit adalah proses memperbaiki karakteristik kulit mentah yang labil menjadi kulit olahan yang lebih stabil. Kulit hewan yang belum diolah sangat rentan oleh pengaruh fisik, kimia, biologi, cuaca sehingga menjadi busuk. Melalui teknologi penyamakan kulit yang mudah rusak berubah menjadi kering, keras dan kaku.

Dalam kitabnya Kasyifatu Saja, Imam Nawawi Banten menyebut:Samak dalam bahasa arab adalah al-Dabgh, yakni memperbaiki kulit bangkai dengan menghilangkan kelembabannya yang membuat kulit cepat rusak.

Hewan yang diambil kulitnya untuk kebutuhan sandang, bisa jadi adalah hewan yang halal dimakan, dan bisa juga hewan yang tidak halal dimakan.

Untuk hewan yang halal dimakan, kulitnya bukanlah bangkai yang najis. Ia suci. Namun proses samak diperlukan guna untuk membuat kulitnya tersebut bisa dimanfaatkan dalam waktu yang lama.

Hewan yang tidak halal dimakan, maka kulitnya bangkai karena memang hewan tersebut ketika hilang nyawanya. Seluruh bagian tubuhnya. Maka tanning atau samak berfungsi selain memperbaiki kulit, ia juga berguna untuk membuatnya menjadi suci.

Dasar kesuciannya adalah beberapa hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari sahabat Ibnu Abbas:“Jika kulit itu telah disamak, maka ia telah suci”

Hadits lain yang juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra: “Setiap kulit yang disamak, maka ia telah suci” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Al-Nasa’i)

Samak hanyalah berlaku untuk mensucikan najis namun bagian kulit saja. Ia tidak bisa mensucikan bagian bangkai yang lain. Termasuk dagingnya.

Mazhab Syafi’iyyah dengan mazhab Hanafiyah menilai bahwa samak itu mensucikan semua kulit hewan, baik yang dagingnya halal dimakan atau tidak, kecuali kulit babi.

Salah satu dalil yang digunakan ialah QS. Al-An’am ayat 145:

“Katakanlah (Wahai Muhammad) aku tidak menemukan apa-apa yang diharamkan dari apa yang diwahyukan kepadaku berupa makanan kecuali bangkai, darah yang mengalir, dan juga daging babi, karena ia adalah Rijs (Najis)….”

Najis Berubah Jadi Hewan

Hewan itu pada umumnya adalah suci, selama ia masih hidup. Dan ada jenis hewan yang ia lahir dari kotoran yang merupakan najis. Salah satunya adalah belatung.

Belatung secara universal dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan ‘maggot. Sebenarnya, belatung merupakan larva alias bakal lalat.

Sebelum bisa terbang dan memiliki sayap, lalat akan berbentuk serupa larva atau belatung. Hewan ini dimulai dari sebuah perkawinan antara lalat jantan dan betina. Lalat jantan akan hinggap di atas tubuh lalat betina dan menyalurkan sel-sel sperma untuk dibuahi di dalam tubuh lalat betina.

Sel-sel telur lalat betina kemudian akan dibuahi di dalam rahim lalu menetas hingga berjumlah ratusan bahkan ribuan larva.

Saat menetas inilah, kemudian lalat betina akan meletakkan larva atau bayi-bayi lalat dtempat-tempat yang dinilai ‘strategis’ yaitu tempat-tempat jorok dan kotor yang dianggap dapat memberikan suplai makanan kepada larva atau bayi lalat.

Sang larva atau bayi lalat akan terus berada di tempat atau sarang strategis’ tersebut hingga ia dewasa dan tercukupi segala kebutuhan nutrisinya.

Demikian tiga cara mensucikan najis. Dengan bertambahny ilmu ini, maka kita tidak perlu was-was akan sesuatu yang tidak diperkenankan agama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *