18 Adab-Adab Buang Air dalam Islam

  • Whatsapp
adab buang air
dok: unsplash

Ada adab-adab buang air besar dalam Islam yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Hal ini sangat penting karena juga bagian dari bab bersuci atau thaharah.

Berikut ada 18 adab buang air besar dalam Islam seperti diambil dari buku Adab Buang Hajat karya Muhamamd Aqil Haidar Lc.

Tidak Membawa Sesuatu Bertuliskan Allah

Adab-adab buang air besar yang pertama, apabila seseorang hendak masuk ke dalam tempat buang hajat/toilet maka disunnahkan untuk tidak membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah atau Nabi muhammad.

Hal ini sebagaimana diutarakan oleh imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab: Hukum masalah ini ulama madzhab Syafii mensunnahkan untuk tidak membawa sesuatu yang di dalamnya menyebutkan asma Allah ketika hendak menuju tempat buang hajat. Akan tetapi tidak diwajibkan.

Imam al-Ghazali menyamakan antara membawa sesuatu bertuliskan Allah ataupun nabi Muhammad:

Dalam kitabnya (Ihya’ dan al-Wasith) Imam Ghazali menyamakan hukumnya antara membawa sesuatu yang menyebutkan asma Allah ataupun menyebutkan nama nabi Muhammad SAW (sama-sama dimakruhkan membawanya ke dalam tempat buang hajat).

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bila masuk ke WC meletakkan cincinnya. (HR. Arba’ah)

Membaca Basmalah

Adab-adab buang air besar yang kedua adalah disunnahkan untuk membaca basmallah sebelum masuk tempat buang hajat.

Imam as-Syairazi mengatakan: Disunnahkan ketika hendak masuk tempat buang hajat membaca “bismillah”.

Berdasarkan sebuah hadits:

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah” (HR. Tirmidzi)

Kesunnahan membaca basmalah berlaku bagi mereka yang buang hajat dalam ruangan ataupun di luar ruangan. Sebagaimana disebutkan oleh imam Nawawi:

Adab ini disepakati hukumnya mustahab/sunnah. Baik ketika buang hajat di dalam toilet ataupun di ruang terbuka.

Membaca Doa Saat Masuk

Setelah membaca basmalah, adab berikutnya adalah berdoa meminta perlindungan sebelum buang hajat. Yaitu dengan membaca doa yang sudah masyhur di kalangan umat muslim. Sebuah doa yang diriwayatkan dari nabi Muhammad SAW dari sahabat

Anas bin Malik: Rasulullah shallalla hu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan (HR. Bukhari Muslim)

Doa ini berlaku baik bagi mereka yang buang hajat di dalam toilet ataupun di ruang terbuka.

Berdoa Setelah Keluar

Ketika seseorang sudah selesai dari buang hajat, disunnahkan untuk membaca doa. Terapat dua doa yang masyhur dan warid dari nabi Muhammad SAW. Doa masuk dan keluar kamar mandi bisa dibaca di sini.

Mendahulukan kaki kiri ketika masuk

Adab berikutnya adalah disunnahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk tempat buang hajat. Imam as-Syairazi mengatakan:

Disunnahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk (tempat buang hajat) dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar. karena kaki kiri untuk sesuatu yang kotor sedangkan kanan untuk selainya.

Sudah menjadi kaidah yang diketahui bersama bahwasanya bagian tubuh yang kanan untuk yang baik-baik, sedangkan bagian tubuh yang kiri untuk sesuatu yang cenderung hina.

Adab ini berlaku baik seseorang buang hajat dalam ruangan ataupun di ruang terbuka. Jika di ruang terbuka maka ia mendahulukan kaki kiri ketika hendak melangkah ke tempat ia buang hajat.

Menjauh dari keramaian

Adab berikutnya adalah menjauh dari khayalak keramaian. Tentu salah satu tujuanya supaya tidak mengganggu orang lain dengan kemungkinan bau yang ditimbulkan.

Salah satu hikmah adalah supaya tidak terlihat auratnya. Dan juga untuk menjaga muruuah/wibawa kita. Karena seseorang akan kehilangan kewibawaan di hadapan orang lain, jika orang tersebut terlihat sedang melakukan buang hajat.

“Al-Mughiroh meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW: bahwasanya beliau jika hendak buang air besar menjauh.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)

Istitar

Etika berikutnya adalah “istitar”. Istitar adalah mencari sesuatu yang bisa menutupi badan kita ketika buang hajat. Baik dibelakang tembok, dibelakang kendaraan, bahkan di balik gundukan pasir.

Imam as-Syairazi berkata: Istitar dari pandangan orang dengan “sesuatu”. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya nabi SAW bersabda: barang siapa hendak buang hajat maka beristitar lah. Jika tidak menemukan sesuatu untuk beristitar kecuali dengan mengumpulkan pasir maka beristitarlah dengan gundukan pasir .

Tidak Menghadap Kiblat

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi SAW bersabda, “Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala.”

Yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Namun kalau kita berada di Indonesia, maka berdasarkan hadits ini kita dilarang buang hajat dengan menghadap arah barat dan timur, dan diperintahkan menghadap ke utara atau selatan. (HR. Bukhari Muslim)

Adapun hukumnya adalah haram menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang hajat.

Baik buang hajat air besar ataupun buang air kecil. Akan tetapi keharaman ini berlaku untuk seseorang yang buang hajat di ruang terbuka. Adapun jika di dalam kamar mandi maka tidak aturan tidak boleh menghadap kiblat. Setidaknya itu dalam madzhab syafii. Sebagaimana disebutkan oleh imam Nawawi:

Adapun hukum dalam masalah ini, dalam madzhab kami (syafii) diharamkan mmenghadap kiblat dan juga membelakanginya ketika buang air besar ataupun kecil ketika di padang pasir (ruang terbuka). Dan tidak diharamkan ketika di dalam ruangan.

Lantas mengapa dibedakan antara dalam ruangan dengan di luar ruangan? Karena terdapat hadist yang menunjukan kebolehan menghadap kiblat ketika buang hajat jika di dalam ruangan. Salah satunya:

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Aku pernah menaiki rumah Hafshoh karena ada sebagian keperluanku. Lantas aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap Syam. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadist tersebut terdapat informasi bahwa Nabi melakukan buang hajat dengan menghadap kiblat. Akan tetapi hal itu terjadi dalam ruangan. Bukan dilakukan ketika di luar ruangan.

Ulama juga mengungkapkan hikmah mengapa kita tidak boleh menghadap kiblat atau membelakanginaya jika sedang buang hajat di luar ruangan. Salah satunya adalah yang diungkapkan imam as-Syairazi:

Karena ketika di gurun pasir (ruang terbuka) terdapat makhluk-makhluk dari jin dan malaikah yang sedang shalat. Maka akan menghadap kepada kemaluan orang yang sedang buang hajat. Sedangkan jika dilakukan di dalam ruangan maka tidak akan terjadi hal itu.

Tidak Membuka Pakaian Sebelum Hendak Jongkok

Salah satu adab yang dianjurkan adalah belum membuka pakaian kecuali sudah hendak jongkok. Karena terdapat sebuah hadits:

Dari Ibn ‘Umar ra. Bahwasanya nabi SAW tidak mengangkat pakaianya sampai ia sudah dekat dengan tanah (sudah jongkok). (HR. Abu Daud)

Hadits di atas merupakan hadist yang nyatakan dhoif oleh abu daud sendiri. Akan tetapi ulama mengatakan hukumnya sunnah untuk mengamalkan isinya. Yaitu tidak buru-buru membuka pakaian
sebelum mau jongkok.

Namun hal ini hukumnya hanya sunnah saja dan dalam kondisi jika tidak ditakutkan pakaian terkena najis.

Tidak Berdiri

Etika selanjutnya adalah tidak kencing sambil berdiri . Hukumnya adalah makruh jika kencing sambil berdiri. Berdasarkan sebuah hadits:

Aisyah berkata: barang siapa yang mengatakan bahwasanya nabi kencing dengan berdiri maka jangan dipercaya. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk (jongkok). (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Dari Umar ra. Beliau berkata: Rasulullah SAW datang dan saya sedang kencing berdiri, maka beliau bersabda: wahai umar jangan kencing sambil berdiri. Setelah itu saya tidak pernah kencing berdiri. (HR. Al-Baihaqi)

Dalam kedua hadist di atas terdapat pelarangan kencing sambil berdiri. Akan tetapi hukumnya tidak sampai haram jika dilakukan. Karena ada hadist lain yang menunjukan beliau pernah buang air kecil
sambil berdiri.

Nabi SAW mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum kemudian buang air kecil sambil berdiri. (HR. Bkhari Muslim)

Dalam hadist di atas terdapat informasi bahwa nabi Muhammad buang air kecil dengan berdiri. Padahal di kesempatan lain beliau melarang hal itu. Mengapa demikian?

Terdapat beberapa jawaban. Salah satunya adalah perkataan imam Nawawi: Boleh jadi nabi melakukan itu karena untuk menerangnkan kebolehan (kencing berdiri).

Dua hadist sebelumnya untuk menunjukan larangan kencing sambil berdiri. Sedangkan hadist terakhir mununjukan bahwa larangan tersebut tidak sampai haram. Yaitu hanya sampai hukum makruh.

Akan tetapi meskipun hukumnya adalah makruh sebaiknya kita hindari kencing sambil berdiri kecuali memang ada udzur. Dan hal itupun harus dipastikan tidak akan terlihat auratnya dan juga bisa terhindar dari najis. Jika sampai terkena najis maka wajib untuk disucikan dulu sebelum shalat.

Menghindari Tempat-Tempat Tertentu

Adab berikutnya adalah menghindari buang hajat pada tempat-tempat tertentu seperti lubang, jalan, tempat bernaung (seperti pos ronda, halte dll), jalur air, bawah pohon berbuah,

Tidak Berbicara

Etika selanjutnya adalah tidak berbicara ketika buang hajat. baik ketika buang air kecil ataupun buang air besar. Baik di ruang terbuka ataupun di toilet. Baik menggunakan telfon ataupun langsung. Bahkan bisa juga berlaku meskipun dengan sms atau chatting.

Abu said al-khudri meriwayatkan bahwasanya nabi SAW bersabda: janganlah 2 orang keluar untuk buang hajat, terbuka auratnya dan berbicara ketika buang hajat. Karena Allah SWT sangat membenci hal itu. (HR. Ahmad, Abu Daud)

Tidak Menjawab Salam

Menjawab salam merupakan kewajiban seseorang yang mendengarnya. Akan tetapi ketika seseorang sedang buang hajat, maka dianjurkan untuk tidak menjawab salam. Karena dalam menjawab salam merupakan doa. Ketika buang hajat bukan merupakan keadaan yang baik untuk memanjatkan doa.

Dalam sebuah hadist dikatakan:
Al-Muhajir bin Qanfadh meriwayatkan: aku datang kepada nabi SAW dan beliau sedang buang air kecil. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Beliau tidak menjawab salam saya sampai beliau wudhu. Kemudian Nabi meminta maaf kepadaku (karena tidak menjawab salam) dan beliau bersabda: sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci. (HR. Ahmad, Abu daud, Nasai)

Ketika ada seseorang yang mengucapkan salam kepada kita, sedangkan kita dalam keadaan buang hajat, maka tidak dianjurkan untuk menjawab kecuali setelah selesai buang hajat.

Selain tidak dianjurkan menjawab salam, seseorang yang sedang buang hajat juag tidak dianjurkan untuk membaca hamdalah ketika bersin, ataupun menjawab adzan ketika dikumandangkan dan juga segala jenis dzikir.

Hanya saja imam al-Baghowi mengatakan: Imam al-Baghowi mengatakan dalam kitabnya syarhus sunnah: ketika seseorang bersin di toilet maka ia baca hamdalah di dalam hatinya.

Secara hukum, menjawab salam ketika buang hajat adalah makruh. Larangan dalam hal ini tidak sampai derajat haram. Maka apabila terpaksa atau tidak sengaja menjawab salam ataupun dzikir ketika sedang buang hajat, hukumnya tidak sampai haram.

Bertumpu Kaki Kiri

Salah satu etika ketika buang hajat adalah berjongkok dan bertumpu pada kaki kirinya. Dan hukumnya adalah sunnah.

Dalam kitab al Muhadzab, imam as-Syairazi berkata:Disunnahkan untuk bertumpu pada kaki kiri ketika buang hajat. dengan dalil sebuah hadist yang diriwayatkan Suraqah bin Malik beliau berkata: Rasulullah mengajarkan kami ketika menuju ke toilet yaitu untuk bertumpu kepada kaki kiri.(HR. Baihaqi). Dan juga karena hal itu lebih memudahkan untuk buang hajat.

Tidak Berlama-Lama

Etika berikutnya adalah untuk tidak berlama-lama di dalam toilet. Dianjurkan setelah selesai urusan kita di dalam toilet, untuk segera meninggalkanya.

Maka dianjurkan untuk tidak membawa barang-barang yang menjadikan seseorang betah di dalam kamar mandi. Seperti seseorang yang buang hajat sambil main hp. Maka biasanya akan cenderung lebih lama di dalam toilet jika sambil membawa hp.

Imam as-Syairazi mengatakan:

Dan dianjurkan untuk tidak berlama-lama di dalam toilet. Sebagaimana diriwayatkan dari Luqman al-hakim beliau berkata: berlama-lama duduk ketika buang hajat akan mencidrai liver dan menyebabkan wasir. Maka duduklah sebentar kemudian keluar.

Berdehem

berikutnya adalah berdehem ketika seseorang selesai kencing. Karena dengan berdehem akan menuntaskan air kencing sampai tidak tersisa lagi. Sehingga tidak akan keluar lagi setelah beristinja’.

Tidak Buang Hajat di Tempat Wudhu

Salah satu anjuran ketika buang hajat adalah untuk memisahkan tempat wudhu dan tempat buang hajat. karena hal itu menjadi penyebab banyaknya orang was-was. Bahkan dianjurkan untuk tidak beristinjak di tempat buang hajat. supaya tidak ada najis yang terciprat kembali ke tubuh.

Bahkan kalaupun misalnya dalam kenyataanya tidak ada najis yang mengenai pakaian, maka banyak yang akhirnya terkena was-was khwatir ada najis yang mengenai tubuh. Maka dari itu dianjurkan untuk memisahkan tempat wudhu dan tempat buang hajat.

Abdullah bin Mughaffal meriwayatkan, bahwasanya nabi SAW bersabda: janganlah salah satu di antara kalian kencing di tempat ia cebok kemudian wudhu di tempat tersebut. Karena penyakit was-was sering timbul karena hal itu. (HR. Tirmidzi)

Istinja’

Adab-adab buang air besar yang terakhir adalah beristinja’. Dalam bahasa kita sering disebut cebok. Bisa menggunakan air bisa pula menggunakan batu atau penggantinya apabila tidak menemukan air.

Demikian adab-adab buang air besar yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Adab-adab buang air besar ini juga bisa diajarkan kepada anak Anda maupun anak didik Anda yang berada pada masa toilet training.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *